Oleh : Eti Nurhandayani, S.Pd.

Pesatnya perkembangan teknologi dewasa ini telah menyadarkan kepada kita bahwa dunia telah memasuki era baru yang dikenal dengan era digital. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan situasi perubahan dari teknologi mekanik dan elektronik analog ke teknologi digital.

Era digital ini adalah tantangan bagi hampir semua orang tua. Perkembangan digital terutama internet menjadi salah satu tantangannya. Mengapa keberadaan internet menjadi tantangan?  Karena selain memiliki sisi positif, internet juga memiliki sisi negatif bagi perkembangan anak. Oleh karena itu, orang tua mesti lebih waspada saat  anak mengakses internet.

Hadirnya teknologi digital memberikan banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Namun di sisi lain jika tidak dikontrol, teknologi justru bisa membawa dampak negatif bagi anak-anak . Sebut saja kecanduan teknologi yang mengakibatkan kelelahan fisik, gangguan sosial yang membuat anak menjadi kesulitan bergaul di dunia nyata, hingga menyebabkan anak kesulitan untuk berkonsentrasi. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua untuk memberi arahan dan edukasi terhadap anak dalam pemanfaatan teknologi di era digital

Seiring berjalannya waktu, internet semakin mudah untuk diakses oleh anak-anak, baik untuk keperluan hiburan ataupun edukasi. Kemudahan ini pun bukan hanya dirasakan oleh para remaja, tetapi oleh anak-anak berusia di bawah tujuh tahun pun sudah mampu mengakses dunia maya dengan bebas. Namun begitu, keingintahuan mereka terhadap internet tidak diimbangi dengan sajian konten yang diberikan. Kebebasan konten yang ada di dunia maya saat ini bisa memberikan dampak baik maupun positif bagi kehidupan anak.

Teknologi itu bagaikan pedang bermata dua. Di lain sisi bisa bermanfaat untuk hal-hal yang positif, namun bisa juga digunakan untuk hal-hal yang negatif. Maka dari itu peran orang tua sangatlah penting dalam mengarahkan anak menggunakan aplikasi-aplikasi yang positif, terutama dalam hal pembelajaran.

Hal paling nyata yang dapat dirasakan, yaitu pesatnya arus pertukaran informasi. Sejak kehadiran internet, setiap orang dapat mengakses, memberikan, menyebarkan, berkomunikasi, dan melakukan berbagai aktivitas secara online. Berbagai media dapat digunakan secara bebas dan luas. Didukung lagi dengan akses terhadap informasi yang tidak terbatas.

Dengan segala akses kemudahan yang diberikan, perubahan ini telah memengaruhi pola kehidupan anak. Tidak bisa dipungkiri, anak-anak di zaman sekarang sangat bergantung pada perangkat digital. Tidak heran juga jika anak-anak saat ini disebut sebagai generasi digital.

Seorang penulis pendidikan bernama Marc Prensky menyebut anak-anak generasi digital sebagai ‘digital native’, yang menggambarkan perilaku ketergantungan terhadap digital (internet) yang sangat tinggi. Dalam artikelnya berjudul ‘Digital Natives, Digital Immigrants’, yang terbit pada tahun 2001 dikatakan bahwa teknologi telah mengubah cara anak untuk berpikir dan memproses informasi, sehingga sulit bagi anak untuk unggul secara akademis menggunakan metode pengajaran yang sudah usang.

Karena itu, seiring dengan kemajuan teknologi dan gencarnya penetrasi smartphone yang begitu besar, membuat anak-anak masa kini semakin ‘digital native’. Hal yang lumrah jika kita melihat anak di bawah umur 3 tahun sudah mampu mengoperasikan perangkat smartphone.

Maka, dalam kaitan dengan pendidikan anak ini, peran orang tua sangat penting dalam mengawasi perilaku anak saat menggunakan perangkat digital. Karena apa? Karena adanya kemudahan informasi yang dapat diakses tanpa batas. Memang hal ini sejatinya sangat baik, namun juga terdapat ancaman yang bisa saja menjadi dampak buruk pada perilaku anak. Misalnya, fenomena cyberbullying yang bisa berdampak buruk pada mental dan perilaku anak. Kalau kita baca di  laman The Healthsite, kebanyakan dari remaja menjadi korban cyberbullying.

Cyberbullying adalah tindakan perundungan yang terjadi di perangkat digital. Seorang cyberbully dapat menggunakan teknologi untuk melecehkan dan menjadikan seseorang korban. Orang yang menderita pelecehan semacam ini akan cenderung menjadi depresi, cemas, dan memiliki pikiran untuk bunuh diri.

Selain itu, berdasarkan penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Youth, penggunaan media sosial dapat memengaruhi pola tidur anak. Mereka merasakan dorongan untuk bangun di tengah malam demi mengetahui apa yang diposting oleh teman-temannya. Hal tersebut justru menyebabkan anak menjadi kurang tidur, sehingga kondisi ini bisa saja memengaruhi suasana hati mereka. Masalah kurang tidur juga berdampak pada masalah kesehatan lain, seperti depresi, obesitas, dan lain sebagainya.

Maka, keterlibatan keluarga dalam pendidikan anak merupakan suatu keharusan. Orang tua merupakan pendidik pertama bagi tumbuh kembang anak. Bentuk pendidikan dalam keluarga bersifat pengasuhan. Pengasuhan erat kaitannya dengan kemampuan orang tua memberikan perhatian, waktu dan dukungan untuk memenuhi kebutuhan fisik, mental, sosial, emosional bahkan spiritual anak. Ini adalah sebuah proses yang merujuk pada serangkaian aksi, dan interaksi orang tua untuk mendukung perkembangan anak.

Menyikapi kondisi demikian, ada beberapa tips yang bisa kita terapkan dalam mendidik anak di era digital dewasa ini,

Tips yang pertama, batasi waktu penggunaan gadget

Berbagai aktivitas akan berkontribusi terhadap perkembangan anak secara keseluruhan. Anak-anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat daripada apa yang diajarkan kepada mereka. Maka, hendaknya orang tua menjadi guru pertama bagi anak-anak,  menjadi panutan yang baik bagi anak-anak. Membatasi penggunaan media sosial adalah cara efektif  memberikan contoh kepada anak-anak.

Kalau pun anak bermain gadget, lebih baiknya orang tua harus mengawasi anaknya supaya tidak melihat konten-konten atau web yang tidak baik untuk anaknya. Jadi, pastikan batasan yang wajar untuk waktu penggunaan gadget bagi anak-anak di rumah. Hal ini dilakukan demi mendorong anak agar mengisi kegiatannya dengan sesuatu yang lebih bermanfaat, seperti bermain, membaca buku, bahkan menghabiskan waktu bersama keluarga di rumah.

Di sinilah, orang tua perlu membangun komunikasi dua arah di era digital. Komunikasi adalah hal penting untuk mengetahui keinginan satu sama lain. Bukan sekadar melarang anak saja, tetapi orang tua juga mesti menjadi pendengar yang baik dan memberikan solusi atas permasalahan yang sedang dialami sang anak.

Di saat anak terlihat mengakses konten dewasa di internet, orang tua harus melarang hal tersebut. Namun saat menyampaikan larangan tersebut, orang tua harus menyampaikannya secara halus dan mudah dipahami oleh sang anak. Sebelum membolehkan anak memegang gadget, alangkah bijaksana jika orang tua mengomunikasikan kepada sang anak mengenai hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilihat. Tentunya, hal ini membutuhkan komunikasi dua arah yang baik.

Adapun tips kedua yang perlu kita terapkan dalam mendidik anak di era digital dewasa ini adalah jangan pernah menggunakan gadget sebagai alat penenang emosi anak.

Belakangan, kita mungkin sering menyaksikan para orang tua menggunakan teknologi sebagai penenang emosi bagi anak-anaknya. Dalam kasus anak membuat ulah atau di luar kendali, yang tak sedikit membuat orang tua menggunakan gadget seperti halnya video game sebagai alat untuk menenangkan mereka. Hal ini justru akan menjadi masalah dalam jangka panjang.

Agar anak tetap terkontrol saat bermain internet, orang tua perlu membatasi waktunya. Umumnya, durasi yang dianjurkan bagi anak, yaitu 2 jam per hari. Meskipun begitu, di masa pandemi ini menjadi pengecualian. Kebutuhan internet bagi anak di masa pandemi juga menjadi sarana edukasi. Kegiatan belajar justru dilakukan secara tatap muka melalui online. Namun, ke depan tetap menjadi perhatian bahwa mesti ada batasan waktu untuk anak bermain internet.

Berdasarkan laman Direktorat Sekolah Menengah Pertama Kemendikbudristek, ada  cara yang perlu diketahui para orang tua, yaitu mengarahkan perangkat dan media digital dengan tepat. Terkadang anak-anak menggunakan teknologi media digital tanpa pengawasan. Jika tidak dipantau, dikhawatirkan mereka bisa mengakses konten-konten negatif ataupun konten yang belum sesuai dengan usia sang anak. Orang tua harus memantau dan juga mengarahkan anak-anak dalam hal penggunaan perangkat dan media digital.

Adapun tips ketiga yang perlu kita terapkan dalam mendidik anak di era digital dewasa ini adalah Menjembatani Kesenjangan komunikasi

Komunikasi tatap muka secara teratur dengan anak adalah cara yang bagus untuk tetap terhubung dengan mereka, dan membantu orang tua untuk menjembatani kesenjangan dalam berkomunikasi. Kegiatan komunikasi tatap muka sangat penting dalam keterampilan pengembangan bahasa mereka.

Di era digital, cara mendidik anak yang tepat adalah memberikan contoh langsung di depan mereka. Seperti kita tahu, anak mudah sekali meniru apa yang mereka lihat terutama dalam lingkungan keluarga dan sekolah. Orang tua menjadi aktor utama yang akan ditiru oleh anak dalam kehidupan seperti perilaku ataupun tutur kata. Oleh karenanya, alangkah lebih bijaksana jika orang tua tidak sering menghabiskan waktu untuk membuka gadget atau laptop bila di depan anak-anak. Gunakan waktu bersama anak untuk bermain, berbicara, atau kegiatan lain yang tidak ada sangkut-pautnya dengan gadget.

Di samping itu, penting bagi orang tua cermat memilih sekolah yang menjadi rumah kedua bagi anak. Peran guru di sekolah, akan sangat penting untuk mengawasi mereka dari ketergantungan internet. Sekolah yang memberikan berbagai fasilitas dan ekstrakurikuler untuk pengembangan mental dan fisik anak, bisa menjadi pilihan untuk mendukung kemampuan anak di masa depan.

Adapun tips keempat yang perlu kita terapkan dalam mendidik anak di era digital dewasa ini adalah Ciptakan zona bebas teknologi di rumah

Zona tanpa layar di rumah, terutama selama waktu makan, pertemuan keluarga, atau tempat tertentu di rumah akan menjadi praktik yang sangat baik dalam membatasi hal tersebut. Cara terbaik untuk memulai praktik ini adalah dengan mematikan televisi saat jam makan atau diskusi keluarga.

Dalam hal ini orang tua juga harus memberikan contoh penggunaan perangkat digital yang bijaksana. Contohnya seperti meletakkan perangkat komputer di ruang terbuka yang mudah dilihat, tidak menggunakan perangkat digital pada saat berinteraksi atau berkegiatan dengan orang lain, tidak menggunakan perangkat digital sebelum tidur, atau mengatur batasan penggunaan perangkat digital secara seimbang sesuai usia anak.

Menelusuri kegiatan anak di dunia maya terkadang orang tua tidak mengetahui hal apa saja yang diakses di dunia maya. Orang tua dapat memantau dan mengarahkan situs web dan media sosial yang mendukung tumbuh kembang anak, dan pastikan anak tidak mengunjungi situs yang tidak sesuai usia. Itulah tadi beberapa kiat mendidik anak di era digital. Orang tua memiliki peran tanggung jawab yang penting dalam pengawasan anak terhadap teknologi digital.

Hal tersebut membantu dalam membatasi gangguan yang dimiliki anak-anak saat makan. Tak sedikit orang tua yang telah memperhatikan bahwa anak-anak tidak ingat apa yang telah dimakan karena konsentrasinya tertuju pada televisi atau telpon selular.

Cara mendidik anak di era digital selanjutnya adalah dengan langsung memantau aktivitas mereka saat bermain gadget. Memang tidak semua orang tua bisa hadir setiap saat atau selama 24 jam. Akan tetapi, setidaknya orang tua dapat meluangkan waktu untuk memperhatikan anak saat bermain gadget.

Cara lain menemani anak bermain gadget bisa dengan memberikan edukasi langsung. Misalnya, orang tua bisa mengajarkan anak menggambar, menghafal, atau bernyanyi lewat tayangan Youtube. Sambil mengerjakan sesuatu, orang tua juga sekaligus bisa mengarahkan anak untuk membuka konten-konten positif.

Adapun tips kelima yang perlu kita terapkan dalam mendidik anak di era digital dewasa ini adalah Orang tua harus bekerja sama dengan guru di sekolah

Orang tua dan guru harus bekerja sama sebagai komunitas untuk membesarkan warga digital yang bertanggung jawab. Banyak sekolah telah beralih ke pembelajaran digital untuk mendidik siswa.

Nah, sebagai orang tua, sudah sepatutnya untuk mendukung upaya sekolah dan meningkatkan penggunaan teknologi yang tepat di rumah dengan bimbingan dan pengawasan yang tepat.

Memperkuat aspek religiusitas adalah cara ampuh bagi orang tua untuk mendidik anak di era digital. Religiusitas atau keyakinan (agama) dapat menjadi benteng bagi anak-anak. Nilai-nilai agama tentu menjadi bekal baginya untuk menghindari pengaruh atau perilaku buruk yang didapat dari internet.

Kita paham  bahwa arus informasi berupa konten yang buruk di internet dapat memengaruhi perilaku anak. Sulitnya mengontrol apa saja yang anak-anak lihat dan tonton di internet, bisa diminimalisir dampaknya dengan memberikan pemahaman nilai-nilai agama yang baik. Ketika metode disiplin ketat bisa mengakibatkan anak menjadi pembangkang atau membebaskan dapat membawa pengaruh ketergantungan, maka memberikan pendidikan agama adalah solusi terakhir.

Oleh karena itu, diharapkan orang tua lebih terbuka dengan memberikan ruang komunikasi dua arah serta bijaksana dalam memberikan keputusan. Zaman semakin berubah, maka model pendekatan terhadap anak tentunya juga mesti menyesuaikan apalagi di era digitalisasi sekarang ini.

Editor : HBN